E-commerce dapat diklasifikasikan ke dalam empat kategori utama: B2B, B2C, C2B, dan C2C. Dalam B2B (Business-to-Business), perusahaan-perusahaan melakukan bisnis dengan satu sama lain seperti produsen dan distributor menjual ke grosir menjual ke pengecer. Harga didasarkan pada cakupan dan mengurutkan seringkali fleksibel. Menurut sebuah laporan dari E&Y Consulting, perkembangan kedua jenis e – commerce ini dapat dilihat bahwa perkembangan Business to Business lebih pesat daripada Business to Consumer. Itulah sebabnya banyak orang mulai bergerak di bidang Business-to-business. Dalam B2C (retail) pada saat ini menggunakan bermacam-macam pendekatan seperti misalnya dengan menggunakan “electronic shopping mall” atau menggunakan konsep “portal”. Yang ketiga adalah jenis C2B (Konsumen-ke-Bisnis), dimana perusahaan melakukan riset pasar dengan menetapkan anggaran online serta menganalisis konsumen dan persyaratan tawaran tentang transaksi tertentu. Aspek lain dari e-commerce adalah C2C (Consumer-to-Consumer). Untuk ini, ada banyak situs yang menawarkan free classifieds, pelelangan, dan forum di mana individu dapat memperoleh dan menjual berkat sistem pembayaran online. Loyalitas pelanggan pada suatu online vendor didasari oleh beberapa aspek yang sama dengan loyalitas pelanggan pada pasar non-internet, yaitu kualitas dari pelayanan dan kepercayaan dari pelanggan. Loyalitas konsumen menjadi suatu area dari ketertarikan utama suatu perusahaan. Perkembangan yang secra cepat dari teknologi dan internet telah menmbagi arah perusahaan untuk mendapatkan e-loyalty. Hal ini dipercaya menimbulkan dampak langsung pada penghasilan dan keuntungan perusahaan. E-loyalty adalah sikap menyukai dari konsumen terhadap e-retailer yang mengakibatkan perlaku pembelian berulang. Akhirnya diketahui bahwa faktor customize, interaktivitas kontak, pengelolaan, kepedulian, komunitas, pilihan, dan karakter dalam suatu website e-commerce, berhubungan positif dengan e-loyalty. Adapun e-loyalty berhubungan negative dengan pencarian alternative oleh konsumen, dan berhubungan positif dengan word of mouth yang positif dan kesediaan untuk membayar lebih. Apabila dihubungkan dengan penelitian sebelumnya tentang reputasi, maka dapat disimpulkan bahwa reputasi memang mempengaruhi kepercayaan konsumen, namun belum cukup untuk membangun sebuah loyalitas konsumen. Saat ini, pengecer cukup maju dalam melayani pesanan pelanggan ke produsen atau distributor yang memenuhi pesanan secara langsung kepada pelanggan dan membayar harga yang telah ditentukan oleh pengecer. Drop shipping digunakan online oleh pengecer tradisional maupun pengecer di situs sebagai strategi pemenuhan pesanan.Untuk pengecer, keuntungan dari drop shipping adalah mengurangi biaya yang meliputi peningkatan biaya per-unit, bagi pesanan pengiriman ketika pelanggan melibatkan produk dari berbagai produsen. Pada model pertama, unit yang singkat dipesan ulang, sedangkan pada model yang kedua merupakan penjualan yang menyediakan hasil eksponen untuk kebutuhan dan distribusi.
DAFTAR PUSTAKA
HTTP://WWW.EARTICLESONLINE.COM/ID/ARTICLE/E-STANDS-FOR-E-COMMERCE/558615
http://mayahijau.multiply.com/journal/item/1/Jurnal_E-Commerce
Gefen, David (2002), Customer Loyalty in E-Commerce, Journal of the Association for Information Systems Volume 3d 2002, p. 2 P51
Jim Pascoe. Smart Computing in Plain English. Lincoln: Jun 2009. Vol. 20, Iss. 6; pg. 39
Srini S.Srinivasan ,Rolph Anderson ,Kishore Ponnavolu (2002), Customer loyalty in e- commerce: an exploration of its antecedents and consequences, Journal of Retailing 78 2002, p41–50